Senin, 19 September 2016

Hello world,
Kali ini, aku pengen cerita tentang pelajaran berharga yang aku dapet dari buku The 7 habits of highly effective people”. Yang ingin aku share kan kali ini adalah tentang bab 1 dari buku ini. The first thing I should outline from this review is “start from the question : WHY I feel it is important for me to read this book and share this.” Jawabannya adalah: aku pengen merubah gaya hidup ala ala ku dimana aku sering merasa kosong –tsaaah~. Kosong karena bingung APA sih yang kudu diperbaikin. Setiap pagi aku usahain baca per bab nya sebelum jalan ke lab –garap gawean formalitas, mulai kehilangan motivasi sih buat garap, Cuma biar ga dimarahin aja – dari alasan itu, perlahan aku ngrasa ada yang aneh sama pola pikir dan gaya hidupku, berusaha mencari dan mencari alasannya. Ternyata gravitasi narik aku buat ambil buku ini di gudang rumah yang sudah terkubur selama bertahun-tahun di kardus kucel. Dari sini aku sadar, hal yang paling mendasari dari perubahan itu adalah, keinginan untuk berubah itu sendiri.
Aku melihat kehidupanku mulai bermasalah, mulai cari tau tuh akarnya dimana, eh ternyata dibuka pikirannya, kalo masalah itu ada bermula dari cara kita melihat masalah itu sendiri. Nah Lho…. Jadi gimana dong? Aku juga masih bingung. Hehehe.. Aku seringnya sadar harus ada yang aku rubah, tapi akarnya selalu berenti pada bagaimana merubah kepribadian, bagaimana cara merubah dengan cepat dan praktis dan dalam jangka waktu pendek. Eitsssss …. Dan aku mulai lupa bahwa ada prinsip tumbuh dan berkembang yang sudah mengakar dari jaman penciptaan semesta sampe sekarang. Yaps… semuanya BUTUH PROSES. Anak kecil akan mengoek dulu untuk dapat makan, dan kemudian mulai memegang makannya sendiri, trus berjalan ngejar makanannya, trus berlari membeli makanannya, dan kemudian bekerja untuk mendapatkan makanannya sendiri. Kita ga boleh lupa prinsip dasar ini. Dan merubah kepribadian itu bukan merupakan alasan dasar sebenernya. Menurut buku ini yang masuk di logika ku adalah, perubahan karakter (yang berdasarkan prinsip) adalah yang BENAR-BENAR MENDASAR.
Subjektifitasku bilang, kalau aku sudah harus mulai terbuka pada prinsip-prinsip yang memang sudah ada dan walaupun diapa-apain tetep kaya gitu, konstan, FIX! Akhirnya muncul pertanyaan lanjutan: MAU LONCAT? PELAN-PELAN! Apa arti pelan-pelan? Artinya sabar membentuk kebiasaan. Kebiasaan itu perlu pengetahuan, keterampilan, dan keinginan. Sabar buat bersedia tahu dulu, terus belajar, kemudian kemauan untuk berkorban meletakkan keingan sesaat, mendahulukan prioritas untuk meraih cita-cita akhir dan mengumpulkan motivasi itu. Apa akhirnya?? Balik lagi ke prinsip bertumbuh dan berkembang tadi yang pasti tertanam di setiap lini kehidupan. Anak bayi berarti fase ketergantungan terhadap orang lain atau “orientasi kamu”, anak remaja sampe dewasa mulai masuk fase kemandirian mulai bisa jalan, dan ngerjain apa-apa sendiri “orientasi saya”, dan orang dewasa yang mulai mencari uang dan mencari cinta –tsaaaahhhh~ masuk dalam fase kesaling tergantungan dimana dia berusaha mensinergikan dedikasinya dengan dedikasi orang lain “orientasi kita”. Olret, dari sini kita paham untuk menang kita butuh kemenangan pribadi dan kemenangan publik. Dan right, semua butuh peta yang jelas, mercusuar dan prinsip yang tepat. Prinsip itu sudah ada sejak penciptaan semesta, beda dengan nilai. Nilai itu dibentuk oleh masyarakat tapi prinsip tertanam dan pasti. Oke, aku kasih contoh aja yan biar gampang, salah satunya sudah disebutkan di atas, yakni prinsip tumbuh dan berkembang, kemudian ada yang bilang prinsip integritas dan keadilan, kemudian prinsip kasih, dan yang jelas adalah prinsip gravitasi atau Tarik menarik.
Ini gambaran BAB 1 nya, dan aku akan bergerak ke bimbingan di BAB 2 nya. Mulai menantang karena berisi tentang pembentukan kemandirian, fase dimana aku harus mulai percaya terhadap diri ku sendiri.

   

0 komentar:

Posting Komentar