Kamis, 26 Februari 2015

Kesendirian kadang membuat saya lebih tau tentang apa yang paling diri saya butuhkan. Kesendirian membuat saya berpikir tentang kesendirian.

picture from devianart

Dikelilingi suara riuh musik pop yang diputar salah satu pusat makanan cepat saji, suara bercerita gaduh segerombolan mahasiswa yang entah mereka mungkin berkumpul untuk menghilangkan penat, refreshing. Ada yang duduk bertiga namun berfokus pada ponsel pintar di tangan mereka. Ada yang serius berdiskusi tentang kimia, mungkin anak ini siswa SMA yg sebentar lagi menempuh ujian nasionalnya. Di luar hujan dan saya menikmati keriuhan ini. Saya pikir riuh renyah ini smua adalah musik kepenatan, usaha, kecintaan, kemunafikan, keingintahuan, dan mungkin keresahan.


Beberapa orang datang dan pergi, datang lapar pulang kenyang itu pasti, datang sedih pulang bahagia siapa tau ? Atau datang bahagia pulang sedih ? Kadang saya merasa raut muka seseorang itu adalah kejujuran mereka, tapi kadang juga bertolak belakang dengan apa yang mereka rasakan.


people's mind

Seseorang di depan saya duduk bertiga bersama dua orang pasangan kekasih yang saling merangkul, berfoto mesra, dan bercinta. Rautnya memang biasa saja. Tapi beberapa kali dia memalingkan muka, takut melihat kemesraan di depan matanya. Apa mungkin dia biasa saja ?


Seseorang wanita mengikuti lelakinya yang sedang berdiskusi serius, mungkin rapat penting. Si wanita membuka buku, memulai membaca, namun sesekali dia beralih muka, melamun, dan menggelitik leher kekasihnya. Si wanita apakah baik2 saja ? Mungkin dia baik2 saja dan bahagia hanya dengan menemani si lelaki sibuk tanpa harus diperhatikan. So simple. Tapi itu mungkin saja.


Sepasang kekasih hanya duduk berhadapan dan terdiam dengan pikiran mereka masing2 tanpa berucap sepatah kata. Mereka pasti memikirkan sesuatu tanpa mau kekasihnya tau. "Mungkin" mereka baik baik saja.Saya juga tidak tau apa yang mereka pikirkan, intinya setiap orang punya dunia mereka masing2 , masih menyembunyikan satu hal besar di dalam dirinya.


Tiba2 saya berpikir tentang berpikir. Apakah setiap orang memang dilahirkan dengan harus berpikir ? Ya sih ada yang bilang berpikir itu membuat kita ada. Tapi apakah berpikir membuat kita bahagia ?


book, imagination, happy ?

Melihat hujan, saya bertanya. Hujan itu apa ? Bagaimana muncul hujan? Berapa liter hujan yang turun ? Kenapa hujan datangnya dari atas ? Kenapa dia disebut turun ? Kenapa yang datang dari atas itu disebut turun ? Manusia memang kompleks , tentunya saya juga.

Di luar hujan dan di dalam otak saya juga hujan. Suatu ketika tadi saya ingin menangis dan tiba2 saya tersenyum. Apa yang membuat saya tersenyum ? Ketika saya berpikir tentang segala sesuatu yang baik kan ?15 menit lalu saya melamun dan membayangkan, saya duduk di pojok meja membaca buku saya sendirian dengan sebotol air minum yang selalu menemani saya. Saya mengimajinasikan seseorang lelaki yang memandang ke saya dengan penuh penasaran, mukanya tidak asing, dia jalan mendekat dn ternyata dia pacar saya. Yang tidak menginginkan saya duduk sendiri.

Selama ini saya tidak tau apa yang saya paling inginkan, tapi ketika saya sendirian bnyak imajinasi yang saya keluarkan. Dan itu "mungkin" menunjukkan hal yang paling saya rindukan.Memang saya suka berimajinasi, namun itu yang membuat saya tersenyum. Imajinasi saya. 

Pikiran saya yang aneh yang membuat saya bahagia. Itu sederhana.Lalu bagaimana dengan orang lain? Mungkin orang lain juga berpikir sesuatu yang membuat bahagia. Mungkin !! jadi .. Mari Bahagia !! (La2)

Namaku Paula Ascaryani , yang selalu merasa tidak puas terhadap setiap keadaan yang ada dan kuterima. Selalu tidak bersyukur dan merasa kurang. Tepat hampir 3 tahun yang lalu, mulai pada tanggal 6 Juli, saya dengan tegas melanjutkan perjalanan jauh saya, dalam segi tempat, waktu, fasilitas, dan jauh dalam artian harapan akan loncatan emosional, personality yang benar-benar akan terlihat setelah sepulangnya saya dari perjalanan “jauh” tersebut. Mulai dari tanggal itu saya, secara personal membuka mata saya tentang apa itu perjuangan, kesederhanaan dan penerimaan.

Pengorbanan yang sebenarnya adalah pengorbanan yang tidak masuk dalam program, tidak terlihat dalam catatan K1, K2, K3 atau K lainnya. Seberapapun besarnya teknologi kita untuk mengidentifikasi hal tersebut, dengan lantang saya akan berkata bahwa hal itu semua tidak dapat ditemukan, unidentified. Penerimaan itu, mungkin juga merupakan pengorbanan yang tidak dapat diduga. Ketika suatu penerimaan akan keterbatasan itu terlaksana, sudah pastilah kau belajar tentang HIDUP dan perjuangan.


Foto anak didik kami di Manggarai Barat, yang mengajarkan tentang Bahagia.


Seorang murid bernama Putri (pada waktu itu kelas 1 SD) secara tidak langsung meminta motivasi, perhatian. Berada di dekatnya saya belajar banyak tentang bahagia di titik keterbatasan.


Keterbatasan yang sangat terbatas, jika dibayangkan dengan akal sehat saya pun, itu benar-benar sangat terbatas. Di batas keterbatasan itupun, mereka selalu tersenyum dan memulai semuanya dengan nyanyian. Itulah identifikasi sebenarnya dari sebuah penerimaan. Sampai-sampai aku heran akan arti kata BAHAGIA menurut penafsiran mereka.

Bahagia itu sederhana, seperti aroma kopi.

Dan mari menafsirkan kata BAHAGIA itu dalam arti yang sebenarnya, dalam arti yang tidak bisa diuangkan, dalam segala perjuangan, pengorbanan, dan penerimaan di suatu BATAS KETERBATASAN itu.
Secara tidak langsung, mereka melempar batu kerikil tajam tepat pada sasaran batin saya, karena saya yang tidak pernah bersyukur atas apa yang sudah saya dapat. Melihat mereka membawa tas kresek putih mereka untuk sekolah, ketika mereka berjalan kaki kurang lebih satu jam dengan gembiranya ke sekolah mereka, apa masih boleh saya merasa kurang bersyukur ?


Saya merasakan bahagia, bahagia tanpa penyesalan, bahagia tanpa pundi-pundi mata uang itu. Bahagia tanpa syarat, Bahagia yang abadi. (Ascyni)