Kamis, 26 Februari 2015
18.48
Paulala
Namaku Paula Ascaryani , yang selalu merasa
tidak puas terhadap setiap keadaan yang ada dan kuterima. Selalu tidak
bersyukur dan merasa kurang. Tepat hampir 3 tahun yang lalu, mulai pada tanggal 6 Juli,
saya dengan tegas melanjutkan perjalanan jauh saya, dalam segi tempat, waktu,
fasilitas, dan jauh dalam artian harapan akan loncatan emosional, personality
yang benar-benar akan terlihat setelah sepulangnya saya dari perjalanan “jauh”
tersebut. Mulai dari tanggal itu saya, secara personal membuka mata saya
tentang apa itu perjuangan, kesederhanaan dan penerimaan.
Pengorbanan yang sebenarnya adalah
pengorbanan yang tidak masuk dalam program, tidak terlihat dalam catatan K1,
K2, K3 atau K lainnya. Seberapapun besarnya teknologi kita untuk mengidentifikasi
hal tersebut, dengan lantang saya akan berkata bahwa hal itu semua tidak dapat
ditemukan, unidentified. Penerimaan
itu, mungkin juga merupakan pengorbanan yang tidak dapat diduga. Ketika suatu
penerimaan akan keterbatasan itu terlaksana, sudah pastilah kau belajar tentang
HIDUP dan perjuangan.
Foto anak didik kami di Manggarai Barat, yang mengajarkan tentang Bahagia.
Seorang murid bernama Putri (pada waktu itu kelas 1 SD) secara tidak langsung meminta motivasi, perhatian. Berada di dekatnya saya belajar banyak tentang bahagia di titik keterbatasan.
Keterbatasan yang sangat terbatas, jika
dibayangkan dengan akal sehat saya pun, itu benar-benar sangat terbatas. Di
batas keterbatasan itupun, mereka selalu tersenyum dan memulai semuanya dengan
nyanyian. Itulah identifikasi sebenarnya dari sebuah penerimaan. Sampai-sampai
aku heran akan arti kata BAHAGIA menurut penafsiran mereka.
Dan mari menafsirkan kata BAHAGIA itu dalam
arti yang sebenarnya, dalam arti yang tidak bisa diuangkan, dalam segala
perjuangan, pengorbanan, dan penerimaan di suatu BATAS KETERBATASAN itu.
Secara tidak langsung, mereka melempar batu
kerikil tajam tepat pada sasaran batin saya, karena saya yang tidak pernah
bersyukur atas apa yang sudah saya dapat. Melihat mereka membawa tas kresek
putih mereka untuk sekolah, ketika mereka berjalan kaki kurang lebih satu jam
dengan gembiranya ke sekolah mereka, apa masih boleh saya merasa kurang
bersyukur ?
Saya merasakan bahagia, bahagia tanpa
penyesalan, bahagia tanpa pundi-pundi mata uang itu. Bahagia tanpa syarat,
Bahagia yang abadi. (Ascyni)
Langganan:
Postingan (Atom)
RSS Feed
Twitter
