Rabu, 11 November 2015


            Someday I was very tired with my routines and activities in campus, and that day was my busy day. While I was walking to my parking lot to go home, I changed my mind and decided to visit my most favorite place to refresh my mind. Somehow, this place is not like people’s thinking. It is only a food court in the middle of science-engineering area of my university. Actually this place is very crowded, but it is the favorite place for medical, engineering, and science student to spend their break-time. I always feel that it is a good place to find inspiration. Next to this place lies the Biology Forest. It is quite big forest in the middle of the city. You know that the air is mostly fresh because of that forest. Besides it, you can find many foods offered there with a good price. I came there and tried to find an empty seat in the corner. I am looking around, and WOILA, I got it. What blessed I am! I walked with high speed to reach that seat in order to not let it lost. Relieve was when I could sit there peacefully. After a while breathing, I try to think about every problem I have to face. I started questioning myself: “Are you okay?” “Are you happy?” Suddenly I remembered that I have to look around to realize what I have had. By looking others, I may think about what they are thinking, and I will know what I am thinking about. This is the way to know myself better, to be happy.

            I sat in the corner of the food court reading my favorite book. That book was Geography of Bliss. It’s telling a lot about happiness. After more than an hour I read that book, I started to look around me. First my eyes run into the teenagers who were sitting next to me. Because they were really close to me, I could listen what they were talking about. They discussed about national test that will come over by this April. They started to open their book, debated about equations, theories, and tricks. How they could be like that? They weren’t panic and figured it out by studying. At least I could learn something from them: to be grateful and do something to solve my problem.


            After I got something from those special teenagers, I looked around and stopped my observation to the couple who were sitting in front of me separated by one line. The girl was sitting in a silent, and the boy was doing so. I jumped into my judgment; perhaps they were thinking about their own feeling. Maybe they were thinking about their relationship or thinking about what they should do to make their pair happy. I never know. But the only thing I knew was: after a while, the girl smiled, and the boy did the same.  From the couple in front of me I learned about how mysterious the power of smile is.


           



             Then I started to throw my scene far away from my place. I saw a man was little harassed. He was sitting next to his friend, enemy, or partner? I don’t know. But for a few minutes they were debating, they smiled together. I never know what their problem is. Once again, I could learn about forgiving is the way to solve the problem between two or more human beings. I was questioning myself again: “Have I forgiven others that sin against me?” From them I learned a lot about happiness of forgiving.




            Next to them, there was a bathroom where the cleaning servant stood by waiting for a job. I saw that he was a professional man who never gives up. Sometimes he was mumbling, I guessed he just sang his favorite song. I was surprised because he just kept to be strong and perhaps happy in his condition. I could see his little smile. I was not sure he was truly happy or not. But the important is he tried to be happy. From him I knew that happiness needs effort.

            People comes, people go, and I jump into my mind who was sitting in the corner of that food court, alone. I was not doing anything, but I was running to catch my wavelength. Several times before I felt sad, I never thought about feeling grateful of everything I’ve had. I felt tired because of my activities, routines and problems which have to be solved. I was trying to run out of my troubles, but being there, at the food court’s corner makes me realize my accomplishment. I should be grateful! There is no another way to be happy unless I set my mind to keep struggling, smiling, forgiving, doing much effort and saying “Thanks God for all I’ve had” “Thanks God I am happy!”

            Suddenly the miracle came, and I felt free, happy, and ready to face my problems. It’s literally like Frederick Keoning quotation: We tend to forget that happiness doesn’t come as a result of getting something we don’t have, but rather of recognizing and appreciating what we do have”.      



Kamis, 26 Februari 2015

Kesendirian kadang membuat saya lebih tau tentang apa yang paling diri saya butuhkan. Kesendirian membuat saya berpikir tentang kesendirian.

picture from devianart

Dikelilingi suara riuh musik pop yang diputar salah satu pusat makanan cepat saji, suara bercerita gaduh segerombolan mahasiswa yang entah mereka mungkin berkumpul untuk menghilangkan penat, refreshing. Ada yang duduk bertiga namun berfokus pada ponsel pintar di tangan mereka. Ada yang serius berdiskusi tentang kimia, mungkin anak ini siswa SMA yg sebentar lagi menempuh ujian nasionalnya. Di luar hujan dan saya menikmati keriuhan ini. Saya pikir riuh renyah ini smua adalah musik kepenatan, usaha, kecintaan, kemunafikan, keingintahuan, dan mungkin keresahan.


Beberapa orang datang dan pergi, datang lapar pulang kenyang itu pasti, datang sedih pulang bahagia siapa tau ? Atau datang bahagia pulang sedih ? Kadang saya merasa raut muka seseorang itu adalah kejujuran mereka, tapi kadang juga bertolak belakang dengan apa yang mereka rasakan.


people's mind

Seseorang di depan saya duduk bertiga bersama dua orang pasangan kekasih yang saling merangkul, berfoto mesra, dan bercinta. Rautnya memang biasa saja. Tapi beberapa kali dia memalingkan muka, takut melihat kemesraan di depan matanya. Apa mungkin dia biasa saja ?


Seseorang wanita mengikuti lelakinya yang sedang berdiskusi serius, mungkin rapat penting. Si wanita membuka buku, memulai membaca, namun sesekali dia beralih muka, melamun, dan menggelitik leher kekasihnya. Si wanita apakah baik2 saja ? Mungkin dia baik2 saja dan bahagia hanya dengan menemani si lelaki sibuk tanpa harus diperhatikan. So simple. Tapi itu mungkin saja.


Sepasang kekasih hanya duduk berhadapan dan terdiam dengan pikiran mereka masing2 tanpa berucap sepatah kata. Mereka pasti memikirkan sesuatu tanpa mau kekasihnya tau. "Mungkin" mereka baik baik saja.Saya juga tidak tau apa yang mereka pikirkan, intinya setiap orang punya dunia mereka masing2 , masih menyembunyikan satu hal besar di dalam dirinya.


Tiba2 saya berpikir tentang berpikir. Apakah setiap orang memang dilahirkan dengan harus berpikir ? Ya sih ada yang bilang berpikir itu membuat kita ada. Tapi apakah berpikir membuat kita bahagia ?


book, imagination, happy ?

Melihat hujan, saya bertanya. Hujan itu apa ? Bagaimana muncul hujan? Berapa liter hujan yang turun ? Kenapa hujan datangnya dari atas ? Kenapa dia disebut turun ? Kenapa yang datang dari atas itu disebut turun ? Manusia memang kompleks , tentunya saya juga.

Di luar hujan dan di dalam otak saya juga hujan. Suatu ketika tadi saya ingin menangis dan tiba2 saya tersenyum. Apa yang membuat saya tersenyum ? Ketika saya berpikir tentang segala sesuatu yang baik kan ?15 menit lalu saya melamun dan membayangkan, saya duduk di pojok meja membaca buku saya sendirian dengan sebotol air minum yang selalu menemani saya. Saya mengimajinasikan seseorang lelaki yang memandang ke saya dengan penuh penasaran, mukanya tidak asing, dia jalan mendekat dn ternyata dia pacar saya. Yang tidak menginginkan saya duduk sendiri.

Selama ini saya tidak tau apa yang saya paling inginkan, tapi ketika saya sendirian bnyak imajinasi yang saya keluarkan. Dan itu "mungkin" menunjukkan hal yang paling saya rindukan.Memang saya suka berimajinasi, namun itu yang membuat saya tersenyum. Imajinasi saya. 

Pikiran saya yang aneh yang membuat saya bahagia. Itu sederhana.Lalu bagaimana dengan orang lain? Mungkin orang lain juga berpikir sesuatu yang membuat bahagia. Mungkin !! jadi .. Mari Bahagia !! (La2)

Namaku Paula Ascaryani , yang selalu merasa tidak puas terhadap setiap keadaan yang ada dan kuterima. Selalu tidak bersyukur dan merasa kurang. Tepat hampir 3 tahun yang lalu, mulai pada tanggal 6 Juli, saya dengan tegas melanjutkan perjalanan jauh saya, dalam segi tempat, waktu, fasilitas, dan jauh dalam artian harapan akan loncatan emosional, personality yang benar-benar akan terlihat setelah sepulangnya saya dari perjalanan “jauh” tersebut. Mulai dari tanggal itu saya, secara personal membuka mata saya tentang apa itu perjuangan, kesederhanaan dan penerimaan.

Pengorbanan yang sebenarnya adalah pengorbanan yang tidak masuk dalam program, tidak terlihat dalam catatan K1, K2, K3 atau K lainnya. Seberapapun besarnya teknologi kita untuk mengidentifikasi hal tersebut, dengan lantang saya akan berkata bahwa hal itu semua tidak dapat ditemukan, unidentified. Penerimaan itu, mungkin juga merupakan pengorbanan yang tidak dapat diduga. Ketika suatu penerimaan akan keterbatasan itu terlaksana, sudah pastilah kau belajar tentang HIDUP dan perjuangan.


Foto anak didik kami di Manggarai Barat, yang mengajarkan tentang Bahagia.


Seorang murid bernama Putri (pada waktu itu kelas 1 SD) secara tidak langsung meminta motivasi, perhatian. Berada di dekatnya saya belajar banyak tentang bahagia di titik keterbatasan.


Keterbatasan yang sangat terbatas, jika dibayangkan dengan akal sehat saya pun, itu benar-benar sangat terbatas. Di batas keterbatasan itupun, mereka selalu tersenyum dan memulai semuanya dengan nyanyian. Itulah identifikasi sebenarnya dari sebuah penerimaan. Sampai-sampai aku heran akan arti kata BAHAGIA menurut penafsiran mereka.

Bahagia itu sederhana, seperti aroma kopi.

Dan mari menafsirkan kata BAHAGIA itu dalam arti yang sebenarnya, dalam arti yang tidak bisa diuangkan, dalam segala perjuangan, pengorbanan, dan penerimaan di suatu BATAS KETERBATASAN itu.
Secara tidak langsung, mereka melempar batu kerikil tajam tepat pada sasaran batin saya, karena saya yang tidak pernah bersyukur atas apa yang sudah saya dapat. Melihat mereka membawa tas kresek putih mereka untuk sekolah, ketika mereka berjalan kaki kurang lebih satu jam dengan gembiranya ke sekolah mereka, apa masih boleh saya merasa kurang bersyukur ?


Saya merasakan bahagia, bahagia tanpa penyesalan, bahagia tanpa pundi-pundi mata uang itu. Bahagia tanpa syarat, Bahagia yang abadi. (Ascyni)