Kamis, 26 Februari 2015

Namaku Paula Ascaryani , yang selalu merasa tidak puas terhadap setiap keadaan yang ada dan kuterima. Selalu tidak bersyukur dan merasa kurang. Tepat hampir 3 tahun yang lalu, mulai pada tanggal 6 Juli, saya dengan tegas melanjutkan perjalanan jauh saya, dalam segi tempat, waktu, fasilitas, dan jauh dalam artian harapan akan loncatan emosional, personality yang benar-benar akan terlihat setelah sepulangnya saya dari perjalanan “jauh” tersebut. Mulai dari tanggal itu saya, secara personal membuka mata saya tentang apa itu perjuangan, kesederhanaan dan penerimaan.

Pengorbanan yang sebenarnya adalah pengorbanan yang tidak masuk dalam program, tidak terlihat dalam catatan K1, K2, K3 atau K lainnya. Seberapapun besarnya teknologi kita untuk mengidentifikasi hal tersebut, dengan lantang saya akan berkata bahwa hal itu semua tidak dapat ditemukan, unidentified. Penerimaan itu, mungkin juga merupakan pengorbanan yang tidak dapat diduga. Ketika suatu penerimaan akan keterbatasan itu terlaksana, sudah pastilah kau belajar tentang HIDUP dan perjuangan.


Foto anak didik kami di Manggarai Barat, yang mengajarkan tentang Bahagia.


Seorang murid bernama Putri (pada waktu itu kelas 1 SD) secara tidak langsung meminta motivasi, perhatian. Berada di dekatnya saya belajar banyak tentang bahagia di titik keterbatasan.


Keterbatasan yang sangat terbatas, jika dibayangkan dengan akal sehat saya pun, itu benar-benar sangat terbatas. Di batas keterbatasan itupun, mereka selalu tersenyum dan memulai semuanya dengan nyanyian. Itulah identifikasi sebenarnya dari sebuah penerimaan. Sampai-sampai aku heran akan arti kata BAHAGIA menurut penafsiran mereka.

Bahagia itu sederhana, seperti aroma kopi.

Dan mari menafsirkan kata BAHAGIA itu dalam arti yang sebenarnya, dalam arti yang tidak bisa diuangkan, dalam segala perjuangan, pengorbanan, dan penerimaan di suatu BATAS KETERBATASAN itu.
Secara tidak langsung, mereka melempar batu kerikil tajam tepat pada sasaran batin saya, karena saya yang tidak pernah bersyukur atas apa yang sudah saya dapat. Melihat mereka membawa tas kresek putih mereka untuk sekolah, ketika mereka berjalan kaki kurang lebih satu jam dengan gembiranya ke sekolah mereka, apa masih boleh saya merasa kurang bersyukur ?


Saya merasakan bahagia, bahagia tanpa penyesalan, bahagia tanpa pundi-pundi mata uang itu. Bahagia tanpa syarat, Bahagia yang abadi. (Ascyni)

1 komentar:

  1. paula visit my blog wajakteknologi.blogspot.co.id. Saya temanmu SMP

    BalasHapus