Kamis, 08 Mei 2014

                Hari ini tanggal 15 Agustus 2013 , yang artinya Indonesia akan mencapai usianya yang ke-68 dalam (kurang lebih) dua hari kedepan. Beberapa hari belakangan ini, banyak tontonan di televisi ataupun artikel di surat kabar yang meliput berbagai macam sejarah , baik secara statis maupun dinamis. Secara statis artinya media menayangkan berita tentang Indonesia dari segi perkembangan baik budaya, ekonomi, politik, pendidikan dan pembangunan. Sebagai contoh, contoh ini adalah skala kecil perkembangan pembangunan baik struktur maupun infrastruktur dalam transportasi, Jakarta merupakan daerah tinjauan observasinya, 2 hari yang lalu , saya memilih satu stasiun televisi, diliputnya perbandingan jalanan dan alat transportasi Jakarta dari jaman Belanda hingga jaman Jokowi. Dari becak, kereta uap, bajaj, bis tingkat hingga yang terlihat sekarang, transJakarta dan Monorel. Dari jalan tanah, jalan aspal, hingga jalan layang.

                Selanjutnya ini merupakan beberapa perkembangan dalam segi politik. Berhubung saya tidak mahir dalam dunia perpolitikan, saya hanya menulis yang sederhana saja ya, mulanya dari orde lama, beranjak ke orde  baru, memasuki reformasi dan demokrasi , yang “katanya” sih lagi in jaman ini. Pada era reformasi Indonesia, kita tidak bisa lupa juga, siapa yang berani mati? Anak Muda, Orang Muda, Mahasiswa kan. Dengan cara yang luar biasa, datang ke jalan, mempertaruhkan nyawa mereka. Peristiwa bersejarah tahun 1998, yang pada kala itu , saya pun belum paham benar harga barang, bahkan kalau orang dulu bilang ,kencing saja saya belum benar.

                Itu semua adalah peristiwa pasca kemerdekaan, kemudian Bagaimana peran pemuda sebelum kemerdakaan ? kita tentu ingat kan pada tanggal 9 Agustus 1945, ketika Bom besar jatuh di daerah Nagasaki Jepang (persis film wolverine), kala itu Jepang yang masih menjajah Indonesia mengalami kekalahan dengan pihak sekutu, dan saat itu Bung Karno dan Radjiman W. selaku ketua PPKI dan mantan ketua BPUPKI  terbang ke Vietnam untuk mendengar penyerahan kemerdakaan Indonesia oleh pihak Jepang. Bagaimana nasib mereka ? tidak ada yang tau mereka akan baik-baik saja atau malah hal negative terjadi. Dedengkot Indonesia meninggalkan tanah air tanggal itu. Kala itu ada pergerakan pemuda dengan Sutan Syahrir sebagai pelopornya. Dia sudah mendengar berita dari radio bahwa Jepang sudah dikalahkan oleh sekutu, pada saat itu. Tepat tanggal 10 Agustus. Sutan Syahrir lari menemui Chairil Anwar, secara diam-diam, mereka berdua mempublikasikan berita ini kepada kaum muda. Hal penting pertama yang kita dapat disini, di tanah air, yang mengetahui kesempatan terbaik untuk Indonesia merdeka adalah Orang Muda. Siapa yang berani menyadap radio luar negeri secara diam-diam kalo bukan Orang Muda?

                Beralih ke Dalat, Bung Karno dan Radjiman bernegosiasi dengan Jepang masalah “Hadiah” kemerdekaan Indonesia ini. Jepang memutuskan Indonesia merdeka pada tanggal 24 Agustus. Saat itu golongan pemuda tidak mau nurut, karena mereka yakin bahwa kemerdekaan ini bukan “hadiah” dari Jepang, dan Jepang tidak memiliki kewenangan untuk memberikan kemerdekaan ini sebagai “hadiah”. Terjadi percekcokan antara Golongan Muda dan Golongan Tua, dimana Golongan Muda sukanya terburu-buru dan Golongan Tua banyak perhitungan, orang muda ingin proklamasi segera diudarakan, bahkan Syahrir sudah menggandakan dan mengirimkan teks proklamasi ke seluruh penjuru  nusantara. Syahrir melakukan ini tanpa meminta persetujuan dari golongan tua. Di lain pihak , golongan tua memiliki banyak pertimbangan karena mereka tidak mau banyak pertumpahan darah ketika berjalan nya proklamasi.

                Saat itu terjadilah peristiwa Rengasdenglok, dimana orang muda secara diam-diam menculik Bung Karno dan Bung Hatta untuk membujuk dan menghindarkan mereka dari pengaruh Jepang. Ini merupakan suatu ide yang berani. Pada tanggal 16 Agustus bung Karno menyetujui keinginan pemuda dengan memastikan dahulu bahwa Jepang memang sudah kalah terhadap sekutu dengan bertanya langsung kepada tangan kanan Jepang di tanah Jawa, letnan Moichiro Yamato. Dan dari situ Bung karno mulai yakin bahwa jepang tidak berhak memberikan kemerdekaan kepada Indonesia sebagai “Hadiah”. Namun keberanian untuk memastikan terlebih dahulu inilah yang sangat amat wajib di beri acungan banyak jempol.

                Pada akhirnya, peristiwa proklamasi berjalan dengan baik pada tanggal 17 Agustus 1945 naskah proklamasi resmi di deklarasikan di depan ribuan bangsa Indonesia.


                Hal istimewa yang bisa saya ambil dari kutipan cerita ini adalah, Orang muda memiliki peran dominan dalam suatu sistem, bahkan dalam kemerdekaan Indonesia, namun kadang kala idelisme yang terlampau tinggi ini membuat mereka terlalu berambisi dan alhasil terburu-buru, atau bisa dibilang nekat. Bagaimana dengan orang tua? Coba kita bayangkan kalau pada jaman itu tidak ada golongan tua yang berangkat ke Dalat, bernegosiasi, dan memikirkan banyak pertimbangan yang dapat mengoptimalkan sistem ?.Yang baik di pelajari dari golongan tua adalah, sikap mereka yang tidak gegabah, banyak pertimbangan, mendengarkan dan memikirkan banyak pihak beserta segala kemungkinan yang terjadi.

                Baik golongan muda dan golongan tua memiliki karakter yang positif dan negatif, nah sudah mengerti bagaimana seharusnya kan ? sebagai Kaum muda kita juga wajib mendengarkan Orang tua, pertimabanga-pertimbangan mereka pastinya sudah dipikirkan secara matang. Semoga berikutnya generasi muda semakin menjadi generasi yang berani, penuh ambisi, idealis, penggerak perubahan namun dengan pemikiran yang cerdas, tidak gegabah dan tetap mendengarkan orangtua. (la2)

0 komentar:

Posting Komentar