Hari ini tanggal 15 Agustus 2013 , yang artinya Indonesia akan
mencapai usianya yang ke-68 dalam (kurang lebih) dua hari kedepan.
Beberapa hari belakangan ini, banyak tontonan di televisi ataupun
artikel di surat kabar yang meliput berbagai macam sejarah , baik secara
statis maupun dinamis. Secara statis artinya media menayangkan berita
tentang Indonesia dari segi perkembangan baik budaya, ekonomi, politik,
pendidikan dan pembangunan. Sebagai contoh, contoh ini adalah skala
kecil perkembangan pembangunan baik struktur maupun infrastruktur dalam
transportasi, Jakarta merupakan daerah tinjauan observasinya, 2 hari
yang lalu , saya memilih satu stasiun televisi, diliputnya perbandingan
jalanan dan alat transportasi Jakarta dari jaman Belanda hingga jaman
Jokowi. Dari becak, kereta uap, bajaj, bis tingkat hingga yang terlihat
sekarang, transJakarta dan Monorel. Dari jalan tanah, jalan aspal,
hingga jalan layang.
Selanjutnya ini
merupakan beberapa perkembangan dalam segi politik. Berhubung saya tidak
mahir dalam dunia perpolitikan, saya hanya menulis yang sederhana saja
ya, mulanya dari orde lama, beranjak ke orde baru, memasuki reformasi
dan demokrasi , yang “katanya” sih lagi in jaman ini. Pada era reformasi Indonesia, kita tidak bisa lupa juga, siapa yang berani mati? Anak Muda, Orang Muda, Mahasiswa kan.
Dengan cara yang luar biasa, datang ke jalan, mempertaruhkan nyawa
mereka. Peristiwa bersejarah tahun 1998, yang pada kala itu , saya pun
belum paham benar harga barang, bahkan kalau orang dulu bilang ,kencing
saja saya belum benar.
Itu semua adalah
peristiwa pasca kemerdekaan, kemudian Bagaimana peran pemuda sebelum
kemerdakaan ? kita tentu ingat kan pada tanggal 9 Agustus 1945, ketika
Bom besar jatuh di daerah Nagasaki Jepang (persis film wolverine), kala
itu Jepang yang masih menjajah Indonesia mengalami kekalahan dengan
pihak sekutu, dan saat itu Bung Karno dan Radjiman W. selaku ketua PPKI
dan mantan ketua BPUPKI terbang ke Vietnam untuk mendengar penyerahan
kemerdakaan Indonesia oleh pihak Jepang. Bagaimana nasib mereka ? tidak
ada yang tau mereka akan baik-baik saja atau malah hal negative terjadi.
Dedengkot Indonesia meninggalkan tanah air tanggal itu. Kala itu ada
pergerakan pemuda dengan Sutan Syahrir sebagai pelopornya. Dia sudah
mendengar berita dari radio bahwa Jepang sudah dikalahkan oleh sekutu,
pada saat itu. Tepat tanggal 10 Agustus. Sutan Syahrir lari menemui
Chairil Anwar, secara diam-diam, mereka berdua mempublikasikan berita
ini kepada kaum muda. Hal penting pertama yang kita dapat disini, di
tanah air, yang mengetahui kesempatan terbaik untuk Indonesia merdeka
adalah Orang Muda. Siapa yang berani menyadap radio luar negeri secara
diam-diam kalo bukan Orang Muda?
Beralih ke Dalat, Bung Karno dan Radjiman bernegosiasi dengan Jepang
masalah “Hadiah” kemerdekaan Indonesia ini. Jepang memutuskan Indonesia
merdeka pada tanggal 24 Agustus. Saat itu golongan pemuda tidak mau
nurut, karena mereka yakin bahwa kemerdekaan ini bukan “hadiah” dari
Jepang, dan Jepang tidak memiliki kewenangan untuk memberikan
kemerdekaan ini sebagai “hadiah”. Terjadi percekcokan antara Golongan
Muda dan Golongan Tua, dimana Golongan Muda sukanya terburu-buru dan
Golongan Tua banyak perhitungan, orang muda ingin proklamasi segera
diudarakan, bahkan Syahrir sudah menggandakan dan mengirimkan teks
proklamasi ke seluruh penjuru nusantara. Syahrir melakukan ini tanpa
meminta persetujuan dari golongan tua. Di lain pihak , golongan tua
memiliki banyak pertimbangan karena mereka tidak mau banyak pertumpahan
darah ketika berjalan nya proklamasi.
Saat itu terjadilah peristiwa Rengasdenglok, dimana orang muda secara
diam-diam menculik Bung Karno dan Bung Hatta untuk membujuk dan
menghindarkan mereka dari pengaruh Jepang. Ini merupakan suatu ide yang
berani. Pada tanggal 16 Agustus bung Karno menyetujui keinginan pemuda
dengan memastikan dahulu bahwa Jepang memang sudah kalah terhadap sekutu
dengan bertanya langsung kepada tangan kanan Jepang di tanah Jawa,
letnan Moichiro Yamato. Dan dari situ Bung karno mulai yakin bahwa
jepang tidak berhak memberikan kemerdekaan kepada Indonesia sebagai
“Hadiah”. Namun keberanian untuk memastikan terlebih dahulu inilah yang
sangat amat wajib di beri acungan banyak jempol.
Pada akhirnya, peristiwa proklamasi berjalan dengan baik pada tanggal
17 Agustus 1945 naskah proklamasi resmi di deklarasikan di depan ribuan
bangsa Indonesia.
Hal istimewa yang bisa saya ambil dari kutipan cerita ini adalah, Orang muda memiliki peran dominan dalam suatu sistem, bahkan dalam kemerdekaan Indonesia, namun kadang kala idelisme yang terlampau tinggi ini membuat mereka terlalu berambisi dan alhasil terburu-buru, atau bisa dibilang nekat. Bagaimana dengan orang tua? Coba kita bayangkan kalau pada jaman itu tidak ada golongan tua yang berangkat ke Dalat, bernegosiasi, dan memikirkan banyak pertimbangan yang dapat mengoptimalkan sistem ?.Yang baik di pelajari dari golongan tua adalah, sikap mereka yang tidak gegabah, banyak pertimbangan, mendengarkan dan memikirkan banyak pihak beserta segala kemungkinan yang terjadi.Baik golongan muda dan golongan tua memiliki karakter yang positif dan negatif, nah sudah mengerti bagaimana seharusnya kan ? sebagai Kaum muda kita juga wajib mendengarkan Orang tua, pertimabanga-pertimbangan mereka pastinya sudah dipikirkan secara matang. Semoga berikutnya generasi muda semakin menjadi generasi yang berani, penuh ambisi, idealis, penggerak perubahan namun dengan pemikiran yang cerdas, tidak gegabah dan tetap mendengarkan orangtua. (la2)
RSS Feed
Twitter
11.39
Paulala
0 komentar:
Posting Komentar